Trump Sebut Pengendara EV Idap "Range Anxiety": Stres Jarak Tempuh Jadi Momok Elektrifikasi

Penulis: Tedy Rustandi  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 09:28:01 WIB
Seorang pengemudi mengisi daya kendaraan listriknya di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).

KALIMANTAN BARAT — Bukan soal performa atau teknologi, kritik Trump kali ini menyasar psikologi pengguna kendaraan listrik. Dalam pernyataannya yang dikutip pekan lalu, dia menyinggung bahwa para pengendara EV punya "penyakit", merujuk pada kekhawatiran terus-menerus soal sisa baterai dan lokasi stasiun pengisian daya. Bagi yang belum pernah merasakan, istilah ini mungkin terdengar lucu. Tapi bagi pemilik EV, ini adalah kenyataan harian yang bisa menentukan rute perjalanan.

Memahami "Penyakit" yang Dimaksud Trump: Bukan Sekadar Isi Baterai

Yang dimaksud Trump adalah range anxiety, kondisi psikologis di mana pengemudi merasa cemas karena perkiraan jarak tempuh tidak sebanding dengan jarak ke tujuan atau stasiun pengisian berikutnya. Ini bukan sekadar "takut kehabisan bensin". Pada mobil konvensional, SPBU ada di mana-mana. Pada EV, terutama di luar kota besar, titik pengisian cepat atau fast charging masih terbilang jarang.

Di Indonesia, kekhawatiran ini sangat relevan. Dengan infrastruktur SPKLU yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan beberapa kota besar, perjalanan lintas provinsi menggunakan EV masih membutuhkan perencanaan ekstra. Pemilik mobil listrik harus memetakan titik pengisian di aplikasi, memastikan baterai cukup untuk sampai ke tujuan, dan siap mengantre jika stasiun penuh.

Dampak Nyata di Lapangan: Perilaku Pengemudi Berubah

Fenomena ini mengubah kebiasaan berkendara secara fundamental. Pengguna EV cenderung menghindari mode berkendara agresif, mematikan AC saat kondisi memungkinkan, dan memilih jalur yang lebih panjang namun memiliki lebih banyak stasiun pengisian. Semua ini dilakukan demi satu tujuan: memastikan baterai tidak mencapai nol di tengah jalan.

Ada juga istilah "charging anxiety" yang muncul belakangan—kecemasan saat mencari charger yang berfungsi atau tidak antre. Ini sering kali lebih parah dari sekadar takut kehabisan daya. Sebab, satu charger rusak atau satu pengemudi lain yang mengisi daya lebih lama bisa mengacaukan seluruh rencana perjalanan.

Apakah Ini Berarti EV Tidak Layak Dibeli di Indonesia?

Tentu tidak. Namun, kritik Trump ini menyentuh titik paling rentan dari ekosistem kendaraan listrik: infrastruktur. Untuk pembeli yang baru pertama kali mempertimbangkan EV, penting untuk menilai ulang kebutuhan harian. Jika perjalanan Anda dominan di dalam kota dengan jarak tempuh harian di bawah 100 km dan memiliki home charging, range anxiety hampir tidak akan pernah muncul.

Masalahnya baru terasa saat Anda berencana melakukan perjalanan darat jauh, seperti Jakarta ke Semarang atau Surabaya ke Bali. Di titik inilah Anda harus benar-benar menghitung ulang. Klaim pabrikan soal jarak tempuh 400-500 km sering kali tidak tercapai di kondisi real-world dengan kecepatan tol, muatan penuh, dan AC menyala. Angka realistis biasanya turun 20-30 persen dari klaim resmi.

Yang Perlu Diperhatikan Calon Pembeli EV di Indonesia

Sebelum mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk mobil listrik, ada beberapa catatan penting yang perlu Anda pertimbangkan:

  • Infrastruktur pengisian: Pastikan ada SPKLU di rute yang sering Anda lewati, bukan hanya di kota asal dan tujuan.
  • Kecepatan pengisian: Perhatikan apakah mobil Anda mendukung fast charging dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengisi 10-80 persen. Mobil dengan pengisian lambat akan sangat merepotkan untuk perjalanan jauh.
  • Biaya perawatan: Meski biaya "bahan bakar" lebih murah, pastikan Anda sudah menghitung biaya penggantian baterai jangka panjang, yang bisa mencapai puluhan juta rupiah.
  • Nilai jual kembali: Pasar mobil bekas EV di Indonesia masih belum stabil. Depresiasi bisa lebih curam dibandingkan mobil konvensional karena teknologi baterai yang terus berkembang.

Verdict: Antara Teknologi Masa Depan dan Realitas Hari Ini

Pernyataan Trump memang bernada sinis, tapi ada benarnya juga. Range anxiety adalah masalah nyata yang tidak bisa diabaikan, terutama di negara dengan infrastruktur yang belum matang seperti Indonesia. Mobil listrik adalah produk yang luar biasa untuk penggunaan harian yang terukur—senyap, responsif, dan efisien.

Namun, mobil listrik belum menjadi pengganti total untuk mobil konvensional, terutama jika Anda tipe pengemudi yang suka perjalanan spontan tanpa perencanaan. Sebelum memutuskan membeli, tanyakan pada diri sendiri: apakah Anda siap mengubah kebiasaan berkendara dan merencanakan setiap perjalanan jauh dengan detail? Jika belum, mungkin masih terlalu dini untuk beralih sepenuhnya ke EV. Kritik Trump, betapapun kasarnya, menjadi pengingat bahwa elektrifikasi bukan hanya soal mengganti mesin, tapi juga mengubah cara kita berpikir tentang perjalanan.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top