KUBU RAYA — Kebijakan ini disampaikan Sujiwo saat menyambut kepulangan kafilah di Kantor Bupati Kubu Raya, Minggu (9/8). Ia menegaskan bahwa skema pembiayaan umrah sengaja tidak menyentuh anggaran pendapatan dan belanja daerah.
“Insyaallah khusus untuk umrah kita tidak akan menggunakan APBD. Saya akan menggalang gotong royong,” kata Sujiwo dalam sambutannya.
Selain paket umrah, para peraih medali emas juga diberikan opsi berupa uang pembinaan. Sementara itu, kafilah yang berhasil meraih juara kedua dan ketiga dijadwalkan mengikuti paket wisata religi ke sejumlah destinasi di Jawa Timur.
Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto mengungkapkan bahwa persiapan kontingen tahun ini berlangsung jauh dari kata mewah. Dukungan anggaran yang digelontorkan bahkan kurang dari separuh dibandingkan saat MTQ sebelumnya di Kapuas Hulu.
“Kalau yang lain itu mungkin pakai charter pesawat, kita pakai kapal motor. Kita numpang di rumah masyarakat dengan ala kadarnya. Karena kita terus terang, anggaran kita dipotong untuk MTQ tahun ini,” ujar Sukiryanto.
Kondisi ini justru dijadikan pelecut bagi para qari dan qariah. Sukiryanto meminta peserta tidak minder dengan fasilitas yang dimiliki kontingen daerah lain dan menjadikan keterbatasan sebagai motivasi untuk berlatih lebih keras.
Menurut Sukiryanto, kekompakan antara kafilah, pelatih, dan ofisial menjadi faktor utama yang menjaga semangat kontingen. Meski dihadapkan pada keterbatasan fasilitas, hasil yang diraih justru membuktikan bahwa prestasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran.
“Alhamdulillah dengan kesederhanaan itu, kafilah menjadi luar biasa. Kita buktikan bahwa tidak selamanya dengan kemewahan dan anggaran besar itu hasilnya maksimal,” katanya.
Kubu Raya memang gagal mempertahankan gelar juara pertama kategori pawai mobil hias yang sebelumnya diraih dua tahun berturut-turut. Namun, hasil tersebut terbayar lunas dengan keberhasilan merebut gelar juara umum.
Sujiwo mengingatkan para kafilah agar tidak larut dalam euforia kemenangan. Ia menilai keberhasilan meraih juara umum bukanlah tujuan akhir dari pembinaan Alquran, melainkan momentum untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
“Bahagia pasti, bangga pasti. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bersama-sama mendorong dan memotivasi agar nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Untuk mempertahankan prestasi, Sujiwo meminta Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kubu Raya bersama para pelatih menyiapkan pola pembinaan secara berkelanjutan. MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat berikutnya akan digelar di Kota Pontianak.
Di sisi lain, muncul wacana dari sejumlah kepala daerah agar pelaksanaan MTQ tingkat provinsi digelar dua tahun sekali. Menurut Sujiwo, jeda waktu yang lebih panjang dapat memberikan kesempatan bagi peserta dan tuan rumah melakukan persiapan secara lebih matang.
“Teman-teman kepala daerah ada keinginan agar bisa dilaksanakan dua tahun sekali. Supaya gaungnya lebih terasa. Mudah-mudahan itu dapat dipertimbangkan,” katanya.