Rupiah Berpotensi Menguat Terbatas Ditopang Intervensi Bank Sentral

Penulis: Pandu Wibisono  •  Rabu, 30 September 2026 | 08:37:01 WIB
Rupiah berpotensi menguat terbatas ditopang intervensi bank sentral.

KALIMANTAN BARAT — Rupiah di pasar spot berpotensi memangkas pelemahannya pada perdagangan hari ini, ditopang intervensi bank sentral dan penguatan sebagian mata uang Asia. Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah mulai menunjukkan pemulihan dengan menguat 0,11% ke Rp17.947/US$. Pasar obligasi domestik juga memberi sinyal lega setelah yield sejumlah tenor kembali turun.

Bloomberg Technoz melaporkan, tekanan jual yang meningkat di perdagangan sebelumnya mulai mereda. Harga minyak brent yang kembali berada di level US$102 per barel menjadi salah satu penopang penguatan mata uang kawasan. Tekanan di pasar obligasi yang sempat melanda juga mulai berkurang, meski yield US Treasury tenor 10 tahun tetap tinggi di 5,2%.

Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi

Dari Asia, sebagian mata uang bergerak menguat, seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong. Namun, won Korea Selatan dan yen Jepang justru melemah.

Penguatan sebagian mata uang kawasan ini memberikan sedikit ruang bagi aset-aset Asia untuk bernapas setelah tekanan jual meningkat di perdagangan sebelumnya.

Pasar Obligasi Domestik Mulai Mereda

Di pasar obligasi domestik, yield sejumlah tenor mengalami penurunan. Yield tenor 1 tahun turun 4,5 bps ke 6,79%, disusul tenor 2 tahun turun tipis 0,1 bps menjadi 6,87%, dan tenor 3 tahun turun 0,3 bps ke 6,96%.

Begitu juga dengan tenor acuan yang sudah kembali turun tipis 0,4 bps menjadi 7,21%. Penurunan yield ini menandakan tekanan jual di pasar obligasi mulai berkurang.

Faktor Pendorong Pemulihan Rupiah

Intervensi bank sentral menjadi salah satu faktor utama yang menopang rupiah. Langkah ini memberikan keyakinan pasar bahwa otoritas moneter aktif menjaga stabilitas nilai tukar.

Selain itu, harga minyak brent di level US$102 per barel turut mendukung sentimen positif bagi mata uang negara-negara kawasan. Kenaikan harga minyak biasanya berdampak positif bagi negara eksportir komoditas seperti Indonesia.

Yang Perlu Dicermati Investor

Meski ada ruang penguatan, investor tetap perlu mencermati yield US Treasury tenor 10 tahun yang masih bertahan di 5,2%. Tingginya yield obligasi AS berpotensi menarik modal keluar dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia.

Pergerakan rupiah hari ini akan sangat bergantung pada seberapa kuat intervensi bank sentral dan apakah penguatan mata uang Asia berlanjut. Pasar obligasi domestik yang mulai stabil menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai berkurang.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top