KALIMANTAN BARAT — Pabrik BYD di Subang tercatat baru memproduksi 24.877 unit mobil sejak beroperasi April 2026, menyisakan kewajiban produksi lokal sebanyak 67.123 unit dari total kuota impor 92.000 unit. Sisa kewajiban itu muncul karena BYD memilih mengimpor utuh hampir 100.000 unit mobil listrik sebelum pabriknya beroperasi. Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menyebut sisa produksi tersebut bisa tuntas dalam dua tahun ke depan.
Angka produksi itu terungkap dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Pabrik BYD di Subang mulai memproduksi pada April 2026 dengan hanya 198 unit, lalu jumlahnya naik bertahap hingga menembus 9.736 unit pada Agustus 2026.
Kenaikan volume itu membuat total produksi lima bulan pertama pabrik tersebut mencapai 24.877 unit. Angka tersebut masih jauh dari kuota impor yang dinikmati BYD sebelumnya.
Produsen mobil listrik diberi batas waktu mengimpor dengan insentif hingga Desember 2025. Mereka diwajibkan membuka bank garansi dan memproduksi di dalam negeri dengan volume yang sama seperti jumlah unit yang diimpor.
BYD tercatat mengimpor 92.000 unit dari total kuota 100.000 unit. Dari situ muncul kewajiban memproduksi 92.000 unit mobil di dalam negeri sebagai konsekuensi insentif yang sudah diterima.
Luther menjelaskan pihaknya sudah menghitung ulang total impor yang dilakukan. "Pada saat ini setelah kita kalkulasi total-total kita hanya impor sebanyak 92.000 dari total 100.000 kuota itu," ujar Luther.
Ada dua komponen yang tidak bisa diubah pada mobil-mobil yang diproduksi lokal, yaitu kapasitas baterai dan motor listrik. Aturan ini berlaku agar unit rakitan dalam negeri tetap setara dengan versi impor yang sudah beredar.
Luther yakin kewajiban produksi BYD di Indonesia akan selesai dalam waktu dua tahun. Keyakinan itu didasarkan pada tren penjualan BYD yang dinilai cukup signifikan.
"Saya rasa dua tahun ke depan, dari tahun ini, sudah dapat kita fulfill, kalau lihat sekarang trennya BYD cukup signifikan ya secara penjualan," tambah Luther.
Untuk menuntaskan sisa 67.123 unit, BYD perlu menjaga laju produksi bulanannya. Pada Agustus 2026, pabrik Subang memproduksi 9.736 unit, angka tertinggi sejak mulai beroperasi.
Jika laju itu bertahan, sisa kewajiban produksi bisa dikejar dalam hitungan bulan, bukan tahun. Namun fluktuasi permintaan pasar mobil listrik nasional tetap jadi variabel yang menentukan.
Pabrik BYD di Subang sendiri merupakan fasilitas perakitan pertama perusahaan asal China itu di Indonesia. Kapasitas produksinya dirancang untuk melayani pasar domestik sekaligus menopang ekspor ke sejumlah negara Asia Tenggara.