KUBU RAYA — Perayaan Misa Kudus Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi menutup rangkaian Rekoleksi Akbar Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat di Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Misa dipimpin Pastor Mayong Andreas Acin, OFMCap, didampingi Sekretaris Ordo Kapusin Provinsi Pontianak Pastor Pionius Hendi, OFMCap, tiga imam lain serta dua diakon.
Peserta berasal dari wilayah Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang dan Keuskupan Ketapang. Mereka mewakili sembilan tarekat, mulai dari Ordo Kapusin, Missionnaires des Saints Apôtres (MSA), Franciscan Missionary Sisters of the Infant Jesus (FMIJ), Ordo Fransiskan Sekular (OFS), hingga Kongregasi Suster SFD, SFIC, KFS, SMFA dan Kongregasi Bruder MTB.
Ibadat Transitus dan Sesi Rekoleksi Sebelum Misa Puncak
Rangkaian kegiatan dibuka dengan Ibadat Transitus pada Sabtu (3/10/2026) pukul 17.00 WIB. Setelah ibadat, peserta mengikuti rekreasi bersama sebagai ruang mempererat persaudaraan lintas tarekat.
Pada Minggu, peserta mengikuti dua sesi rekoleksi yang dibawakan Pastor Paulus Toni, OFMCap, sebelum Misa Kudus digelar. Rekoleksi Akbar ini terselenggara berkat kerja sama INFO JPIC Regio Kalimantan dan Keluarga Fransiskan Pontianak (Kefrap).
Pastor Mayong: Kesederhanaan Berarti Berani Tampil Apa Adanya
Dalam homilinya, Pastor Mayong mengajak umat menghidupi kembali semangat kesederhanaan yang menjadi ciri utama kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi. Menurutnya, para pengikut Santo Fransiskus dipanggil untuk hidup apa adanya, tidak berpura-pura dan tidak bermuka dua.
"Lain di bibir, lain di hati. Serigala berbulu domba," ungkapnya.
Ia menyebut kesederhanaan membuat seseorang berani menampilkan dirinya apa adanya dan tidak berusaha hidup di luar realitas. Kesederhanaan juga mengajak seseorang memiliki keterbukaan dan kepolosan seperti anak kecil.
Semangat kesederhanaan Injili itu, menurut Pastor Mayong, mewarnai perjalanan hidup Santo Fransiskus. Ia tidak menaklukkan dunia dengan pedang ataupun argumen tajam, melainkan menghadirkan kelembutan dan kekuatan Injil. Bahkan ketika berhadapan dengan penderitaan menjelang akhir hidupnya, Santo Fransiskus tetap mampu menunjukkan sukacita.
"Berat, tambahkan K, jadi BerKat. K adalah Kristus," katanya.
Pelayanan kepada Warga di Pinggiran Jadi Penekanan
Semangat tersebut juga dirasakan dalam perjalanan pelayanan para saudara Fransiskan di Kalimantan Barat, termasuk pelayanan kepada mereka yang berada di pinggiran dan membutuhkan perhatian.
Ketua Panitia Rekoleksi Akbar, Suster Serli, SFIC, menyampaikan terima kasih kepada para provinsial, pimpinan umum dan dewan penasihat tarekat Fransiskan yang mendukung terselenggaranya kegiatan. Apresiasi juga disampaikan kepada Pastor Paulus Toni, OFMCap, selaku pemateri, Pastor Gatot selaku Direktur Rumah Retret Tirta Ria, para donatur, INFO JPIC Regio Kalimantan serta Kefrap.
Suster Serli berharap kebersamaan yang terbangun melalui Rekoleksi Akbar terus berkembang dan semakin melibatkan seluruh keluarga Fransiskan yang berkarya di Kalimantan Barat pada berbagai kesempatan berikutnya.
"Jangan hal-hal buruk mencuri sukacitamu," pesannya.
Pesan Penutup: Jadi Harta Benda yang Tetap Bergerak
Dalam sambutannya, Pastor Mayong menyampaikan terima kasih kepada seluruh saudara-saudari yang meluangkan waktu mengikuti kegiatan serta kepada panitia yang mempersiapkan Rekoleksi Akbar. Ia juga berterima kasih kepada Pastor Pionius Hendi, OFMCap, selaku Ketua INFO JPIC Nasional, atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.
Pastor Mayong berharap pengalaman kebersamaan selama rekoleksi tidak berhenti ketika peserta meninggalkan Rumah Retret Tirta Ria, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan dan pelayanan sehari-hari.
"Semoga setelah pulang dari sini, kita menjadi harta benda yang bergerak dan tetap bergerak," ujarnya.
Rekoleksi Akbar ini menjadi ruang perjumpaan, refleksi dan penguatan persaudaraan bagi keluarga Fransiskan Kalbar. Dari Tirta Ria, semangat Santo Fransiskus diteguhkan kembali: hidup sederhana, melayani dengan sukacita, merawat persaudaraan dan terus berjalan sebagai peziarah yang membawa perdamaian, terutama kepada mereka yang membutuhkan.