KALIMANTAN BARAT — PT PLN (Persero) menyiapkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik nasional yang diproyeksikan naik lebih dari tiga kali lipat hingga 2060. Program raksasa energi terbarukan ini dibangun bertahap dalam tiga fase dan menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia.
Rencana itu disampaikan dalam forum Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026. Pemerintah menilai pertumbuhan kebutuhan listrik tidak bisa lagi dijawab hanya dengan menambah pembangkit berbasis bahan bakar fosil. Elektrifikasi rumah tangga dan industri harus berjalan seiring dengan efisiensi energi agar ketahanan energi nasional tetap terjaga.
Skema Tiga Fase Pengembangan PLTS
EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PLN Tri Hardimasyar membeberkan peta jalan pengembangan energi surya tersebut. Kapasitas 100 GWp akan dibangun dalam tiga tahap yang saling bersambung.
"Program energi surya 100 GWp akan diadakan dalam 3 fase, yaitu 30 GWp pada fase pertama, 35 GWp pada fase kedua, dan 35 GWp pada fase ketiga," kata Tri dalam forum yang sama.
Fase pertama difokuskan pada pengurangan konsumsi diesel. Sasaran utamanya adalah wilayah-wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, terutama di daerah terpencil dan pulau-pulau kecil. Pengembangan dilakukan lewat dua skema utama: pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dan PLTS terapung.
PLTS terapung memanfaatkan permukaan waduk dan danau sebagai lokasi panel surya, sehingga tidak memakan lahan daratan. Sementara PLTS atap menyasar bangunan residensial, komersial, dan fasilitas publik yang bisa memproduksi listrik sendiri.
Kompor Induksi Kurangi Ketergantungan LPG Impor
Dari sisi permintaan, Kementerian ESDM mendorong peralihan dari kompor gas LPG ke kompor induksi. Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal EBTKE Gigih Udi Atmo menyebut langkah ini bukan sekadar program penghematan subsidi, melainkan strategi jangka panjang mengurangi impor LPG.
"Program konversi kompor listrik tidak hanya mengurangi dependensi terhadap LPG, tetapi kompor induksi juga terbukti memiliki efisiensi energi yang jauh lebih tinggi dibanding kompor LPG," kata Gigih dalam keynote speech-nya.
Efisiensi kompor induksi memang lebih tinggi karena panas dihasilkan langsung pada peralatan masak, bukan melalui pembakaran gas yang sebagian energinya terbuang ke udara. Bagi rumah tangga, peralihan ini berpotensi memangkas pengeluaran bulanan untuk bahan bakar.
Bagi negara, konversi ini mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan. Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan LPG, sehingga setiap penurunan konsumsi gas berdampak langsung pada penghematan devisa.
Mengapa Lonjakan Listrik Sulit Dihindari
Proyeksi kenaikan kebutuhan listrik lebih dari tiga kali lipat hingga 2060 sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, dan masuknya kendaraan listrik ke pasar domestik. Setiap kendaraan listrik yang mengisi daya di rumah menambah beban jaringan secara signifikan.
Data center, smelter nikel, dan industri pengolahan mineral juga menuntut pasokan listrik besar dan stabil. Tanpa penambahan kapasitas pembangkit yang signifikan, risiko defisit listrik di masa depan menjadi nyata.
Pemerintah menempatkan energi surya sebagai pilihan utama karena biaya panel yang terus turun dan sumber dayanya melimpah sepanjang tahun di Indonesia. Namun tantangannya bukan kecil: integrasi PLTS ke jaringan butuh sistem penyimpanan baterai, infrastruktur transmisi baru, dan regulasi yang mendukung investasi swasta.
Keberhasilan program 100 GWp ini akan menentukan apakah Indonesia bisa memenuhi kebutuhan listrik yang terus tumbuh tanpa mengunci diri pada pembangkit batu bara untuk puluhan tahun ke depan.